Menunggu itu sangat erat dengan kesetiaan.
Dan masa-masa menunggu adalah ujian kesetiaan
Bersabarlah untuk tetap menjadi setia
karena tergesa-gesa membuat prosesnya tak terasa nikmat.
Dan masa-masa menunggu adalah ujian kesetiaan
Bersabarlah untuk tetap menjadi setia
karena tergesa-gesa membuat prosesnya tak terasa nikmat.
Tetaplah tersenyum walau sakit, karena kebahagian itu tidak datang semudah itu. Butuh perjuangan hati.
Dulu, saya bisa begitu marah saat ada mereka yang membuat saya menunggu akan janji temu, atau janji apa saja yang sebenarnya mereka sendiri yang menetapkan. Sayangnya selama saya marah, tidak ada yang menasehatiku.Saya menganggap semua yang saya lakukan benar dimata orang-orang. Ya, itu hanya berlaku saat itu. Saat prasangka baik merupakan hal yang kalah oleh keegoisan dan targetan diri. Saat saya belum menyadari ada hal di luar kehendak yang bisa terjadi. Saya mesti banyak belajar, dan harus bersabar. Dan menghormati mereka yang menepati waktu ataupun janji.Begitu indah kata-kata di atas, dan rasanya memang begitu baiknya.
Dan hidup, adalah proses menunggu. Menunggu mati, menunggu hasil dari sebuah usaha, menunggu perjalanan doa, dan menunggu pasangan hidup serta keturunan.
Yap, bahwa Setia itu mulia. Mulai di hadapanNya hingga mulia untuknya. Walau terkadang, rasa-rasanya masih begitu sulit setia menanti pada masa yang sebegini sulit.
Rasa-rasanya dengan usia sebegini, walau sahabat dekat sendiri enggan rasanya meminta bantuan karena kita sudah dihadapkan pada urusan pribadi masing-masing, walaupun mereka tetap ada, rasanya kita yang terlalu tak tau diri karena mereka juga perlu menjalankan hari.
Memang sih, akan selalu ada orangtua yang akan setia mendengarkan dan menasihati tapi entah mengapa saya merasa dengan usia mereka, cukup cerita bahagia aja yang perlu mereka dengannya karena mereka pun sudah lelah menghadapi dunia dan saya rasa dengan alasan itu kita memerlukan teman bicara yang juga menjadikan masalah kita sebagai masalahnya dan urusan kita juga sebagai urusannya. Ya, teman hidup. Karena kemudian, semua sudut diri dan hati dibuat untuk kita saling berbagi.
Ini yang saya katakan “menunggu dengan sabar dan tetap setia itu sulit.”
Tapi benarkah sebegitu sulit?!?!… Bukannya kita sudah bertahan dan bersabar sejauh ini ya? Bukannya selalu ada Sang Maha Pengasih yang selalu mendengarkan cerita, keluh dan curhat kita ya? Bukankah saat lelah diri, memandang wajah orangtua lelahnya tak terasa lagi ya?
Iya, sulit itu untuk kita.
Bukankah Tuhan itu Maha Menepati Janji ? Bukannya kita diciptakan berpasang-pasangan ? Bukannya proses yang baik hasilnya akan baik juga? Bukannya selalu percaya kalau semua akan indah pada waktunya kan ya ? So, masih susah?!?!
Kita memang terlalu banyak menuntut diri dan terlalu banyak lupa. Banyak menuntut akan keinginan yang kita sukai bukan yang Allah SWT sukai. Dan banyak lupa, bahwa doa-doa kita lebih banyak dikabulkannya daripada yang tidak. Bukankah begitu??!! (Nasihat diri saya pribadi)
Menunngu bukan hal menyakitkan, tapi gimana kita belajar untuk bisa sabar, dan setia menunggu apa yang kita inginkan. Walau tak semuanya tercapai, tapi inget janji ALLAH SWT adakan? percayakan? (Nasihat untukmu sahabt)
Tanamkan bunga dihati, siramlah ia dengan kebaikan. Meski itu sulit disaat musim kemarau datang.
Tanamkan bunga dihati, siramlah ia dengan kebaikan. Meski itu sulit disaat musim kemarau datang.

EmoticonEmoticon